INDAHNYA ORNAMEN MASJID SABILAL MUHTADIN
Sabilal Muhtadin adalah nama salah satu kitab yang ditulis oleh Syekh Muhammad Arsyad Albanjari, ulama besar Kalimantan Selatan (1710-1812). Ditulis dengan huruf Jawi (Arab Pegon atau Arab Melayu) berbahasa Melayu, kitab asli tulisan tangan beliau ini lengkapnya berjudul "Sabilal Muhtadin li Tafaqquh fi Amridiin", mengulas tentang pelajaran agama terutama bidang thoharoh dan kaifiyatul ibadah. Kitab ini dahulu populer dan menjadi pegangan bagi kaum muslimin di kawasan yang berbahasa melayu yakni di Kalimantan, Sumatera, Malaysia, Brunei, Pattani di Tailand dan Filipina Selatan. Kitab asli tulisan tangan, meski dalam keadaan rapuh, saat ini masih tersimpan di Museum Lambung Mangkurat. Dalam rangka memuliakan, mengenang, dan menghargai jasa Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari tersebut, maka pembangunan Masjid Raya Kalimantan Selatan yang dimulai pada tahun 1974 ini, diberi nama dengan "Masjid Raya Sabilal Muhtadin".
Masjid Raya Sabilal Muhtadin ini dibangun di dekat Kantor Gubernur dan dekat Rumah Dinas Gubernur. Berdiri di atas tanah yang luasnya 100.000 M2, letaknya di tengah-tengah kota Banjarmasin, dekat dengan Sungai Martapura yang menjadi ikon kota. Bangunan utama dan menara seluruhnya berlapis batu pualam atau marmer. Luas bangunan utama mencapai 5.250 M2, yaitu ruang tempat ibadah 3.250 m2, ruang bagian dalam yang sebagian berlantai dua, luasnya 2.000 m2. Menara masjid terdiri atas 1 menara besar yang tingginya 45 m, dan 4 menara kecil, yang tingginya masing-masing 21 m. Pada bagian atas bangunan utama terdapat kubah-kubah besar dengan garis tengah 38 m, terbuat dari bahan aluminium sheet kolcolour berwarna emas yang ditopang oleh susunan kerangka baja; dan kubah menara kecil dengan garis-tengah 5 dan 6 m.
Memerhatikan indahnya Masjid Sabilal Muhtadin ini, tidak lepas dari paduan serasi antara tata arsitektur, kelengkapan, dan ornamen yang menghiasinya. Terdapat beberapa macam ornamen yang adaa pada unsur bangunan dan kelengkapan.
1. Ornamen Motif Dayak
Pada beberapa bidang, terpampang motif-motif khas Dayak. Motif-motif Dayak biasanya diterakan di tubuh sebagai motif tato, pada bangunan rumah betang atau rumah panjang, pada benda-benda kelengkapan perang, serta pada benda bergerak lainnya. Motif ini berupa unsur-unsur lengkung yang rumit, yang apabila dicermati menunjukkan upaya penggambaran makhluk hidup yang disamarkan sedemikian rupa. Dalam banyak aspek kehidupan, motif ini dipercaya akan lebih memberi kekuatan serta melindungi rumah, individu atau juga wilayah tertentu dari pengaruh roh jahat.
Pada Masjid Sabilal Muhtadin ini, motif tersebut terdapat pada pintu masuk ke ruang utama bagian depan dan samping, pintu masuk ruang imam (mihrab) dari arah samping, serta garis pembatas lantai atsas.
(Belum selesai)
Sumber: Bulletin Bandarmasih Edisi Nomor 36 volume 1/2015

Comments
Post a Comment